Desainer Indonesia Yang Telah “Go Internasional”

Menjadi seseorang yang bisa “go international” (mendunia) merupakan hal yang sangat diidamkan oleh semua orang. Tentu saja dengan usaha yang mereka lakukan untuk menjadi seseorang yang mendunia. Usaha tersebut bisa saja dari hobi, misalnya menyanyi, mendesain busana, aktor/aktris, dan lain-lain. Berikut adalah 10 orang desainer busana yang telah meraih impian menjadi seseorang yang “Go International“:

1. Adjie Notonegoro

Adjie NotonegoroAdjie Notonegoro (lahir di Jakarta18 Juli 1961; umur 51 tahun) adalah seorang perancang busana ternama di Indonesia. Adjie adalah anak dari Djati Prayitno dan Ibu Ami. Karya busananya telah dipakai oleh orang-orang terkenal dari kalangan artis, bintang film, sampai kepala negara mulai dari Gus Dur (Abdurahman Wahid), Bill Clinton, hingga Fidel Castro.

Adjie pernah belajar di sekolah mode Mueller und Sohn di Jerman dan kemudian ke Paris dan Italia memperdalam ilmunya. Setelah selesai belajar, Adjie kembali ke Indonesia dan membuka sebuah butik pada tahun 1986. Adjie Notonegoro memiliki dua anak yang bernama Kevin dan Andrew. Ia adalah paman dari designer dan presenter Indonesia, Ivan Gunawan.

2. Anne Avantie

Anna Avantie Perancang kebaya Indonesia.jpgAnne Avantie (lahir di SemarangIndonesia20 Mei 1964; umur 48 tahun) adalah perancang busana Indonesia yang terkenal melalui berbagai koleksi kebaya hasil karyanya. Kebaya hasil karyanya telah dikenal di skala internasional dan sering dipakai oleh para selebriti Indonesia hingga sejumlah raju sejagat (Miss Universe) yang pernah datang ke Indonesia. 

Sejak kecil, Anne Avantie telah menunjukkan ketertarikan dalam dunia mode. Dia sering membuat kostum panggung untuk grup vokal dan tari di sekolah hingga berbagai ajang hiburan remaja lainnya di Solo. Pada tahun 1989, Anne memulai kariernys sebagai perancang busana dari sebuah rumah kontrakan dengan modal 2 mesin jahit. Tempat usaha pertamanya itu diberi nama “Griya Busana Permatasari”. Pada mulanya, dia banyak membuat kostum penari dan berbagai busana malam yang dicirikan hiasan manik-manik. Hingga tahun 2010, Anne memiliki dua butik di Mall Kelapa Gading dan Roémah Pengantén, Grand Indonesia. Selain itu, Anne juga memiliki toko bernama “PENDOPO” yang menjual produk seni dalam negeri hasil karya usaha kecil menengah (UKM).

3. Arantxa Adi 

Dunia fashion Indonesia patut berbangga atas keberhasilan Arantxa Adi yang menjadi satu-satunya perancang yang ikut mendesain jins merek internasional, Citizens of Humanity. Arantxa Adi merupakan perancang muda yang sudah membuktikan dirinya lewat karya-karya busana wanita yang ia buat selama lebih dari 10 tahun berkarya. Tahun ini, ia kembali menunjukkan kepiawaiannya lewat karyanya yang berhasil menggaet perhatian merek jins internasional, Citizens of Humanity.

Bukan perkara mudah bagi seorang desainer lokal dari negara Indonesia untuk bisa berkiprah di brand internasional. Hal tak mudah bukan berarti mustahil. Arantxa Adi membuktikannya lewat peluncuran lini jins “Arantxa Adi for Citizens of Humanity” yang ia peragakan di ajang BRI Women’s Week 2010. 

4. Biyan Wanaatmadja

Biyan Wanaatmadja atau Biyan lahir di Surabaya, Jawa Timur, 20 Oktober 1954. Fashion akhir yang paling menonjol dan tinggi desainer tinggal di Indonesia. Lahir dari Surya Wanaatmadja dan Elizabeth Jonathan, menghabiskan masa kecilnya dan pemuda di Surabaya, Biyan terus gelar busananya di Mueller & Sohn Privat Modus Schule di Duesseldorf, Jerman dan London College of Fashion, Inggris.

Mengambil desainer Interior tetapi tidak menarik baginya, sehingga ia pindah ke Sekolah Desain Fashion. Pada tahun 1983, Biyan bekerja di Covery Erico di Florence, Italia. Setelah tinggal di Eropa selama lebih dari 15 tahun, keluarga Biyan memintanya untuk datang kembali ke Indonesia dan mulai label pribadinya. Sekarang Biyan tahan 3 label yang Biyan, Studio 133 Biyan oleh, dan XSML dengan kemitraan.

5. Carmanita 

Carmanita lahir di Bandung Jawa Barat – Juli 10, 1956 keturunan keluarga Batik tradisional membuat di Jawa Tengah, dia adalah Islam dan Aktif Indonesia, Inggris, Belanda. Dia memiliki kesempatan untuk menyelesaikan pemasaran bisnis dan keuangan studi di Universitas San Francisco. Setelah kembali ke Indonesia pada tahun 1980.

Carmanita menjadi tertarik dan berkonsentrasi pada apa yang sampai sekarang telah dilakukan oleh anceslor nya yaitu pembuatan batik tradisional. Dalam perkembangannya daripada konservatif merangkul pola tradisional bertahap-tahap dia mengamati aspek lain dari karakter universal dalam kain tradisional. Upaya menggabungkan pola tradisional dengan stilisasi bentuk alam serius berusaha termasuk menggabungkan warna tradisional dengan yang modern.

6. Didi Budiardjo

Dikenal sebagai perancang muda dan di kalangan pakar busana Indonesia, Didi Budiardjo diakui telah memberikan nuansa baru pada gaya busana Indonesia dengan desain-desainnya yang modern dan unik. Didi memulai karirnya dibidang busana dengan menjalani pendidikan mode formal pertama di Lembaga Pengajaran Tata Busana (LPTB) Susan Budihardjo pada tahun 1989. Disaat itu juga, Didi telah memenangkan Susan Budihardjo Fashion Designer Contest. Setahun kemudian, Didi meneruskan pendidikannya di Atelier Fleuri Delaporte Paris.
Kemudian, Didi memulai kiprahnya dengan busana siap-pakai. Tetapi saat ini Didi juga dikenal dengan busana-busana pernikahan, pesta dan kebaya yang modern dan elegan. Dedikasi dan cintanya kepada budaya Indonesia telah membawa Didi untuk menciptakan busana baru yang dinamakan “Didi Budiardjo Kebaya”. Didi ingin mendorong para pecinta busana Indonesia agar memakai kebaya dengan perasaan dan kebanggaan seperti mereka memakai busana mewah. Oleh karena itu, peragaan-peragaan busana Didi selama beberapa tahun ini selalu berdasarkan pada legenda Indonesia, seperti peragaan busana “Widyadhari” pada tahun 2000.

7. Edward Hutabarat 

Edward Hutabarat (akrab dipanggil Edo; lahir di TarutungSumatera Utara31 Agustus 1958; umur 54 tahun) adalah salah satu perancang busana terkemuka di Indonesia. Edo juga dikenal sebagai kurator seni dan budaya.

Edo bekerja sama dengan perajin dari sejumlah tempat, seperti batik di Cirebon dan Laweyan (Solo), tas rotan dari Kalimantan danBali, serta aksesori perak di Kota Gede (Yogyakarta), Sanur (Bali), hingga Sumba di NTT. Karya mereka dibuktikan Edo dapat sesuai dengan gaya hidup saat ini asal dipadu dengan desain yang baik.

8. Ghea S. Panggabean

Wanita  yang memiliki nama lengkap Ghe Sukasah Panggabean lahir pada tanggal 1 Maret 1955. Meskipun terdaftar sebagai Waga Negara Indonesia (WNI), tetapi dia dilahirkan di kota Rotterdam, Belanda. Ghe Sukasah Panggabean atau biasa dipanggil Ghea adalah putri dari pasangan suami istri bernama Sutardi Sukarya dan Janne Jannie Horneman.

Pada pendidikan tingkat dasar, Ghea bersekolah di Jerman Barat. Selanjutnya pada pendidikan tingkat menengah, dia mengenyam pendidikan di Rotterdam. Setelah lama mengais ilmu di luar negeri, Ghea akhirnya kembali ke tanah air untuk melanjutkan pendidikan menengahnya. Dia sempat bersekolah di Tarakanita. Setelah itu, dia melanjutkan ke bangku perkuliahan di Perguruan Tinggi Trisakti mengambil jurusan seni rupa, namun dia terdaftar sebagai mahasiswi disana hanya selama setahun. Setelah menyerap pendidikan dan ilmu di tanah air sendiri, Ghea melanjutkan pendidikan perkuliahannya di Lucie Clayton College of Dres smaking Fashion Design  pada tahun 1976 hingga 1978). Selanjutnya, Ghea diterima di sebuah institusi pendidikan yang mengajarkan dunia busana / fashion, Chelsea Academy of Fashion, London pada tahun 1979.

Dalam tiap peragaan busana, Ghea sangat suka  menggunakan motif kain tradisional. Ghea menuturkan bahwa ia sangat mencintai Indonesia dan ia pernah menyelenggarakan peragaan busana sebagai bentuk dedikasinya selama 30 tahun terhadap Indonesia.

9. Harry Darsono

Busana paling terkenal di Indonesia desainer, Harry Darsono, lahir pada tahun 1950, melakukan studi mode di lembaga bergengsi di Paris dan London, mencapai tingkat doktor dalam bidang Filsafat Kemanusiaan di Oxford. Pada tahun 1974, ia memulai karirnya sebagai desainer haute couture dan seniman tekstil. Sejak itu, desain tekstil nya telah dipasarkan di Eropa, Australia, Amerika Serikat dan Asia.

Tidak hanya ahli di seluruh dunia kontemporer di bidang fashion, Darsono yang sekarang ini juga terkenal dengan bordir halus, tangan-berputar desain perhiasan tenunan, desain piala dan kain baru. Selain itu ia sering terlibat dengan tahap produksi, menyediakan desain panggung serta kostum panggung. Koleksi yang komprehensif Nya karya seni yang diawetkan di berbagai museum tekstil dibedakan luar negeri serta di Jakarta di Museum Harry Darsono, yang diresmikan pada tahun 2001 dan dirancang oleh seniman sendiri. Darsono sendiri juga akademis aktif, bekerja sebagai dosen di bidang seni, desain, dan psikologi dalam kewirausahaan. Selain itu, dia ketua Dewan Nasional untuk Pendidikan Kejuruan pada Seni & Desain.

10. Ivan Gunawan

Berawal dari ketertarikan sejak kanak-kanak, Ivan Gunawan mendalami dunia desain busana dan mengasah talentanya secara otodidak. Kini, tanpa terasa, empat belas tahun sudah Ivan menggeluti profesi sebagai seorang desainer. Kecintaan dan keseriusannya menjalani profesi sebagai desainer itu  mengantarnya memiliki tiga label busana miliknya sendiri; “Ivan Gunawan” untuk koleksi lini utama, “IG -Ivan Gunawan” untuk koleksi lini kedua, dan “Love”, untuk koleksi pengantin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s